Dukung Login

Serangan Bandara Riyadh Tewaskan 12 Orang, 309 Terluka, Penerbangan Ditutup

🌐 11 Oct 2026
👁 39 Views | X

Serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, ibu kota Arab Saudi, menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai 309 lainnya pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Insiden ini menjadi salah satu serangan paling mematikan yang dialami kerajaan tersebut dalam lebih dari satu dekade dan menandai eskalasi serius konflik yang melibatkan kelompok Houthi dari Yaman.

Pemerintah Arab Saudi melaporkan bahwa korban meninggal terdiri atas empat warga Saudi, dua warga Bangladesh, serta masing-masing satu warga Amerika Serikat, Yordania, Palestina, Suriah, Sudan, dan Mesir. Para korban luka mendapatkan perawatan di sejumlah rumah sakit, sementara beberapa di antaranya dilaporkan berada dalam kondisi kritis.

Menurut laporan Reuters dan Associated Press (AP), serangan tersebut merupakan bagian dari rangkaian serangan terhadap fasilitas penerbangan Saudi selama pekan yang sama. Serangan-serangan sebelumnya di bandara Riyadh telah menewaskan empat orang dan menyebabkan kerusakan serius pada sebuah pesawat komersial Saudi yang sedang terparkir. 




Operasional Bandara Dihentikan, Penerbangan Terganggu

Dampak serangan langsung terasa pada aktivitas penerbangan. Operasional Bandara Internasional King Khalid dihentikan setelah insiden tersebut, dan seluruh penerbangan dialihkan menurut keterangan otoritas penerbangan Saudi yang dikutip Reuters.

Associated Press melaporkan bahwa penutupan bandara diperpanjang hingga setidaknya pukul 21.00 waktu setempat pada Minggu, 11 Oktober, berdasarkan informasi pelacak penerbangan Flightradar24. Penutupan ini mengganggu salah satu pintu masuk udara utama negara tersebut, yang melayani Riyadh, kota dengan populasi sekitar delapan juta jiwa.

Gangguan juga meluas ke jaringan penerbangan internasional. Sebelum serangan terbaru terjadi, sejumlah maskapai, termasuk Air India, FlyDubai, Lufthansa Group, dan Pakistan International Airlines, telah menangguhkan atau membatalkan layanan menuju dan dari Riyadh serta sejumlah bandara Saudi lainnya untuk periode yang berbeda.

Pada Minggu, kelompok Houthi kembali memperingatkan maskapai penerbangan, pekerja bandara, dan pelancong agar tidak menggunakan bandara-bandara Arab Saudi. Reuters melaporkan bahwa kelompok tersebut menyatakan peringatan itu harus ditanggapi serius. Ancaman ini menambah ketidakpastian bagi maskapai dan penumpang yang melintasi wilayah udara Saudi. 




Houthi Dituding Terlibat, tetapi Konflik Terus Memanas

Koalisi militer pimpinan Saudi menyalahkan kelompok Houthi atas serangan Sabtu dan menyebutnya sebagai tindakan yang sangat serius. Namun, Reuters melaporkan bahwa Houthi belum secara terbuka mengklaim bertanggung jawab atas serangan terbaru tersebut. Karena itu, tuduhan pihak Saudi perlu dibedakan dari pengakuan langsung kelompok yang dituduh.

Sebelumnya, Houthi memang mengklaim melakukan serangan terhadap bandara Saudi pada pekan yang sama. Kelompok tersebut juga memperingatkan maskapai internasional agar menghindari wilayah udara Saudi, yang mereka gambarkan sebagai kawasan operasi militer.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengatakan Washington sedang mempertimbangkan kemungkinan bergabung dengan operasi militer Saudi terhadap Houthi. Pernyataan itu membuka kemungkinan konflik berkembang lebih jauh jika Amerika Serikat memutuskan terlibat langsung.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengecam serangan terhadap bandara tersebut. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres juga menyampaikan kecaman dan menegaskan bahwa serangan terhadap warga sipil maupun infrastruktur sipil melanggar hukum internasional serta harus dihentikan. 




Akar Konflik dan Perebutan Jalur Strategis

Konflik antara pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan kelompok Houthi telah berlangsung selama bertahun-tahun. Arab Saudi memasuki perang Yaman pada 2015 dengan memimpin koalisi Arab yang berupaya mengusir Houthi dari ibu kota Sanaa.

Situasi sempat relatif tenang setelah gencatan senjata pada 2022. Namun, ketenangan itu runtuh pada pertengahan 2026 ketika pertempuran kembali meningkat. Menurut Reuters, perkembangan terbaru mencakup kemajuan Houthi di kawasan pesisir Laut Merah serta upaya pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi untuk merebut kembali wilayah tersebut.

Associated Press menyoroti arti strategis kawasan itu bagi jalur pelayaran internasional. Pergerakan di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb berpengaruh terhadap lalu lintas perdagangan global, sementara konflik yang lebih luas di Timur Tengah juga mengancam pelayaran di Selat Hormuz. Dengan demikian, eskalasi konflik bukan hanya persoalan keamanan lokal, tetapi juga berpotensi memengaruhi perdagangan dan energi internasional.

AP turut melaporkan bahwa serangan terhadap Arab Saudi telah mengguncang pasar dan mendorong kenaikan harga minyak. Arab Saudi merupakan eksportir minyak terbesar dunia, sehingga gangguan keamanan di wilayahnya dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi. 




Risiko Keamanan Regional Meningkat

Serangan terhadap bandara Riyadh memperlihatkan bagaimana konflik bersenjata dapat menjangkau infrastruktur sipil yang vital. Selain korban jiwa dan luka-luka, penutupan bandara mengganggu perjalanan internasional dan meningkatkan risiko bagi penerbangan komersial.

Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada respons militer Saudi, sikap Houthi, dan keputusan Amerika Serikat mengenai kemungkinan keterlibatan langsung. Hingga Minggu, 11 Oktober, peringatan terhadap penggunaan bandara Saudi masih berlanjut.

Situasi ini menempatkan keselamatan warga sipil, stabilitas kawasan, dan kelancaran jalur transportasi internasional dalam risiko. Tanpa langkah deeskalasi yang nyata, serangan balasan dan perluasan operasi militer berpotensi memperpanjang konflik serta menimbulkan dampak yang melampaui perbatasan Yaman dan Arab Saudi.




Sumber:

1. Reuters — 11 Oktober 2026

   Yaman: Houthi Kembali Memperingatkan Maskapai dan Pelancong agar Menghindari Bandara Saudi

2. Reuters — 10 Oktober 2026

   Serangan Houthi di Bandara Saudi Tewaskan 12 Orang, Terburuk dalam Satu Dekade

3. Associated Press (AP News) — laporan mengenai serangan bandara Riyadh, 10–11 Oktober 2026

   Serangan Rudal di Bandara Ibu Kota Saudi Tewaskan 12 Orang dan Melukai Lebih dari 300 Orang