Dukung Login

Eskalator Stasiun Duri belum beroperasi, KAI tambah Petugas periksa keselamatan

🌐 05 Oct 2026
👁 94 Views | X

Penumpang Kereta Rel Listrik (KRL) yang melintasi Stasiun Duri, Jakarta Barat, masih harus menggunakan tangga manual setelah sebuah eskalator mengalami gangguan dan mendadak bergerak mundur pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Insiden yang mengakibatkan 12 orang terluka tersebut membuat PT Kereta Commuter Indonesia (KAI Commuter) memperketat pengaturan penumpang sekaligus melakukan pemeriksaan teknis sebelum fasilitas itu kembali dioperasikan.

Hingga Senin, 5 Oktober 2026, eskalator yang berada di akses menuju Peron 5 arah Tangerang tersebut belum dapat digunakan. KAI Commuter masih melakukan perbaikan dan memastikan fasilitas tersebut memenuhi persyaratan keselamatan sebelum dibuka kembali untuk masyarakat.

Menurut laporan detikNews pada Senin pagi, perusahaan juga menambah petugas di sejumlah titik Stasiun Duri untuk membantu mengatur arus penumpang, terutama pada jam sibuk. Langkah ini dilakukan agar pengguna tetap dapat berpindah peron dengan tertib meskipun salah satu fasilitas utama mengalami gangguan. 




Eskalator Mendadak Bergerak Mundur

Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 07.45 WIB, Sabtu, 3 Oktober 2026. Eskalator yang semestinya bergerak naik tiba-tiba bergerak mundur ketika digunakan sejumlah penumpang.

Perubahan arah secara mendadak membuat pengguna kehilangan keseimbangan. Sejumlah orang terjatuh dan bertubrukan di bagian bawah eskalator. Situasi tersebut sempat menimbulkan kepanikan karena penumpang yang berada di atas tidak memiliki banyak waktu untuk mengantisipasi pergerakan fasilitas.

Gangguan terjadi pada eskalator di area akses menuju jalur 5. Petugas keamanan yang sedang bertugas segera menghentikan operasional fasilitas dan membantu proses evakuasi.

VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, menyampaikan permohonan maaf atas kejadian tersebut. Para korban kemudian dibawa ke Pos Kesehatan Stasiun Duri untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan awal.

Berdasarkan pendataan awal perusahaan, terdapat 12 pengguna terdampak, terdiri atas 10 orang dewasa dan dua anak-anak. Seluruhnya mengalami luka dan mendapatkan penanganan medis. 




KAI Ungkap Gangguan pada Sistem Penggerak

Setelah melakukan pemeriksaan bersama PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan mitra terkait, KAI Commuter menemukan adanya gangguan pada sistem penggerak eskalator.

Temuan tersebut disampaikan Karina pada Minggu, 4 Oktober 2026. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui kondisi teknis fasilitas yang menyebabkan eskalator bergerak berlawanan arah ketika sedang digunakan penumpang.

Meski demikian, informasi yang disampaikan perusahaan baru menjelaskan adanya gangguan pada sistem penggerak. Belum terdapat penjelasan teknis lebih terperinci mengenai komponen yang mengalami kerusakan ataupun penyebab awal gangguan tersebut.

Tim teknis kemudian melakukan perbaikan secara intensif. Setelah pekerjaan selesai, eskalator tidak akan langsung dibuka untuk umum. KAI Commuter terlebih dahulu akan melakukan uji pemeriksaan dan kelayakan untuk memastikan fasilitas aman digunakan kembali.

Langkah tersebut menjadi bagian penting dari penanganan insiden, mengingat gangguan terjadi ketika fasilitas sedang digunakan oleh masyarakat. 




Dua Korban Masih Menjalani Perawatan

Perkembangan kondisi korban juga menjadi perhatian setelah insiden tersebut. Dari 12 pengguna yang terdampak, tujuh orang telah diperbolehkan melanjutkan perjalanan setelah mendapatkan penanganan medis.

Sementara itu, lima orang sempat dirujuk ke Rumah Sakit Duta Indah untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. Dari jumlah tersebut, tiga orang kemudian diperbolehkan pulang, sedangkan dua orang lainnya masih menjalani perawatan.

KAI Commuter menyatakan akan mendampingi korban yang masih menjalani pengobatan hingga kondisinya pulih. Perusahaan juga telah berkoordinasi dengan Jasa Raharja Putera (JRP) untuk memberikan jaminan pembiayaan selama masa perawatan dan pengobatan.

Kebijakan tersebut disampaikan perusahaan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap pengguna yang mengalami dampak langsung akibat gangguan fasilitas di stasiun.

Dengan demikian, penanganan insiden tidak hanya berfokus pada perbaikan eskalator, tetapi juga mencakup pendampingan terhadap penumpang yang menjadi korban. 




Penumpang Dialihkan ke Tangga Manual

Selama eskalator belum dapat digunakan, penumpang yang hendak menuju Peron 5 diarahkan menggunakan tangga manual. Petugas ditempatkan di sekitar fasilitas untuk memberikan informasi dan mencegah pengguna mencoba melewati area yang masih dalam perbaikan.

Bagi penumpang prioritas, termasuk mereka yang membutuhkan akses lebih mudah, KAI Commuter menyediakan alternatif berupa lift yang berada di belakang musala.

Penambahan petugas pada Senin, 5 Oktober, juga menjadi langkah untuk mengantisipasi peningkatan jumlah penumpang pada jam berangkat dan pulang kerja. Pengaturan arus diperlukan karena Stasiun Duri merupakan salah satu titik perpindahan perjalanan Commuter Line.

KAI Commuter meminta pengguna mengikuti arahan petugas dan tidak terburu-buru ketika berpindah peron. Penumpang juga diimbau tidak berlari di area tangga maupun akses stasiun untuk menghindari risiko terjatuh.

Kondisi tersebut menjadi perhatian khusus bagi pengguna yang membawa anak-anak, lanjut usia, maupun penumpang dengan keterbatasan mobilitas.




Keselamatan Menjadi Syarat Sebelum Dibuka Kembali

KAI Commuter belum memastikan kapan eskalator tersebut dapat kembali beroperasi secara normal. Perusahaan menegaskan bahwa proses perbaikan harus mengutamakan keselamatan dan tidak semata-mata mengejar kecepatan penyelesaian pekerjaan.

Setelah perbaikan selesai, pemeriksaan dan uji kelayakan akan dilakukan sebelum fasilitas digunakan kembali. Artinya, selama tahapan tersebut belum dinyatakan selesai, akses eskalator tetap ditutup.

Insiden Stasiun Duri menjadi pengingat bahwa keandalan fasilitas pendukung merupakan bagian penting dari pelayanan transportasi publik. Selain kereta yang harus beroperasi dengan aman dan tepat waktu, fasilitas perpindahan penumpang seperti eskalator, tangga, dan lift juga membutuhkan pemeliharaan serta pemeriksaan berkala.


Bagi masyarakat yang menggunakan KRL melalui Stasiun Duri, kondisi ini berarti perlu menyediakan waktu perjalanan tambahan, terutama pada jam sibuk. Pengguna juga sebaiknya memperhatikan petunjuk petugas sebelum berpindah peron.

Perhatian berikutnya tertuju pada hasil perbaikan dan uji kelayakan yang dilakukan KAI Commuter. Sampai fasilitas dinyatakan aman, pengalihan akses dan penambahan petugas menjadi langkah sementara untuk menjaga keselamatan serta kelancaran aktivitas penumpang di Stasiun Duri.




Sumber: Detiknews, MediaIndonesia, Liputan6, Antara