Dukung Login

Martabak Telor Sehat buat sendiri di rumah Keluarga Kristen

🌐 01 Mar 2026
👁 35 Views | X

Jam menunjukkan pukul dua siang ketika ibadah persekutuan doa wanita selesai. Suasana gereja masih terasa hangat oleh doa dan pujian yang baru saja dinaikkan.


Saya berjalan pulang bersama anak bungsu saya yang sejak tadi setia menunggu dan bermain dengan anak-anak lain sekitar halaman gereja. Di tangan saya masih tergenggam Alkitab dan tas kecil berisi catatan renungan.


Setelah acara selesai, anak saya langsung meminta dengan wajah memohon.


“Bu, beli gorengan, ya? Lapar, nih”


Permintaan itu meluncur begitu saja. Di ujung gang memang ada penjual gorengan yang setiap sore ramai pembeli. Aroma tempe goreng, bakwan, dan tahu isi sering kali menggoda siapa saja yang lewat. Anak bungsu saya menatap dengan mata berbinar, membayangkan renyahnya camilan sore.


Saya tersenyum, lalu sedikit membungkuk agar sejajar dengan wajahnya. “Gorengan di luar memang enak, tapi belum tentu sehat. Minyaknya belum tentu diganti, dan kita tidak tahu bahan-bahannya seperti apa.”

Ia terdiam sejenak dengan wajah sedih.


Keinginannya masih terlihat jelas, tetapi nada suara saya tidak terdengar melarang, melainkan mengajak berpikir. “Kalau begitu, tidak jadi?” tanyanya pelan.


Saya tersenyum lagi. “Bagaimana kalau kita buat sendiri di rumah, nak? Lebih bersih, lebih sehat, dan pasti lebih enak.

Matanya kembali berbinar. “Boleh. Mau, bu.”

Tapi ada syaratnya,” lanjut saya lembut. “Kalau mau bikin, harus bantu ibu masak ya. Kita buat martabak telor sendiri.”


Ia langsung mengangguk cepat. Kesempatan untuk ikut memasak terdengar seperti petualangan kecil yang menyenangkan. Kami pun masuk ke dapur, mengganti suasana sore yang biasa menjadi momen kebersamaan.

Di dapur, saya membuka lemari es dan menemukan dua butir telur serta beberapa batang daun bawang. Di rak masih ada kulit lumpia yang tersisa. “Kita buat martabak telor simpel saja,” kata saya sambil mengeluarkan bahan-bahan.


Anak saya berdiri di samping meja dapur, memperhatikan dengan penuh rasa ingin tahu. Saya memecahkan telur ke dalam mangkuk dan menyerahkan garpu kecil kepadanya. “Ayo, kamu yang kocok.”


Dengan penuh semangat ia mengocok telur hingga tercampur rata. Saya menambahkan irisan daun bawang dan bawang putih cincang. Garam dan merica saya taburkan secukupnya. “Masak itu bukan hanya soal rasa,” ujar saya sambil mengaduk adonan bersama. “Tapi juga soal kebersihan dan kasih. Kalau kita buat sendiri, kita tahu apa yang kita makan.”


Ia mendengarkan sambil terus mengaduk. Baginya, memasak bersama terasa lebih menyenangkan daripada sekadar membeli di luar.

Setelah adonan siap, saya mengambil selembar kulit lumpia dan membentangkannya di atas meja. Saya menunjukkan cara menuang adonan secukupnya di tengah agar tidak terlalu penuh. “Sekarang lipat seperti amplop,” kata saya pelan.

Ia mencoba mengikuti.


Lipatannya belum terlalu rapi, tetapi saya tidak menegur. Saya membantu merapikan sudut-sudutnya dan merekatkan bagian tepi dengan sedikit campuran tepung dan air. “Belajar itu pelan-pelan,” ucap saya lembut.

Minyak saya panaskan di wajan. Ketika martabak pertama dimasukkan, terdengar suara desisan yang khas. Anak saya menatap wajan dengan mata takjub.


Perlahan warna kulit lumpia berubah menjadi keemasan. Aroma gurih mulai memenuhi dapur, membuat perut semakin terasa lapar.

“Wah, baunya enak sekali,” katanya.

Saya tersenyum. “Karena kita buat dengan hati.”

Setelah matang, martabak saya angkat dan tiriskan. Saya memotongnya menjadi beberapa bagian kecil. Uap tipis masih terlihat saat bagian dalamnya terbuka, memperlihatkan telur yang lembut dengan taburan daun bawang hijau segar.

Kami duduk bersama di meja makan.


Tidak ada gorengan dari sembarangan luar, tetapi yang tersaji terasa jauh lebih istimewa. Ia menggigit potongan martabak dengan hati-hati. Kulitnya renyah, isinya gurih. Senyum puas muncul di wajahnya.

“Lebih enak dari yang di luar,” katanya jujur.


Saya menatapnya penuh syukur. Dari persekutuan doa hingga dapur rumah, hari itu terasa lengkap. Saya tidak hanya menghindarkannya dari makanan yang kurang sehat, tetapi juga mengajarkan nilai tanggung jawab dan kebersamaan. Memasak bersama menjadi pelajaran kecil tentang pilihan yang bijak dan kebahagiaan sederhana.


Sejak hari itu, setiap kali ia ingin membeli jajanan sembarangan, ia akan mengingat pengalaman sore tersebut. Ternyata membuat sendiri bukan hanya lebih sehat, tetapi juga menghadirkan kenangan yang hangat.




Berikut resep martabak telor  rumahan yang kami buat sore itu.


Bahan:
Kulit lumpia secukupnya
2 butir telur ayam
2 batang daun bawang, iris tipis
1 siung bawang putih, cincang halus
1/2 sendok teh garam
1/4 sendok teh merica
Minyak goreng secukupnya

Cara membuat:

  1. Kocok telur hingga rata. Masukkan daun bawang, bawang putih, garam, dan merica. Aduk sampai tercampur merata.

  2. Bentangkan kulit lumpia. Tuang adonan telur secukupnya di tengah, lalu lipat seperti amplop dan rekatkan pinggirannya dengan campuran tepung dan air.

  3. Panaskan minyak dalam wajan. Goreng martabak hingga kuning keemasan dan renyah di kedua sisi.

  4. Angkat, tiriskan, potong sesuai selera, dan sajikan hangat.