Apakah saham layak dipilih sebagai instrumen investasi bagi orang Kristen? Pertanyaan ini kerap muncul di tengah berkembangnya pasar modal dan semakin terbukanya akses masyarakat terhadap perdagangan saham. Di satu sisi, saham menawarkan potensi keuntungan besar. Di sisi lain, terdapat risiko yang tidak dapat diabaikan. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pemahaman menyeluruh menjadi kunci utama.
“Harta kekayaan terbesar bukannya di dasar laut, tetapi adanya di pasar modal.” Kutipan tersebut disampaikan oleh Lo Kheng Hong, investor sukses di pasar modal Indonesia yang sering dijuluki sebagai Warren Buffett-nya Indonesia.
Pernyataan itu menggambarkan keyakinannya bahwa peluang pertumbuhan kekayaan terbuka lebar melalui investasi saham. Pada tahun 2021, Lo Kheng Hong tercatat memiliki aset saham sekitar 2,5 triliun rupiah, belum termasuk rumah, ruko, dan aset lainnya. Pencapaian tersebut bukan hasil dari latar belakang keluarga kaya atau kepemilikan bisnis besar sejak awal. Ia hanyalah seorang karyawan dan tidak pernah menjadi pengusaha besar. Ia mulai berinvestasi saham pada usia 31 tahun dengan hidup hemat serta menyisihkan sebagian gajinya secara konsisten untuk membeli saham.
Kebiasaan sederhana namun disiplin inilah yang mengantarkannya pada kebebasan finansial. Kisah tersebut menunjukkan bahwa investasi saham bukan hanya milik kalangan tertentu. Dengan konsistensi dan pengelolaan yang baik, peluang terbuka bagi siapa saja yang bersedia belajar dan bersabar.
Rekam jejak investasinya pun mencerminkan potensi besar yang dapat dihasilkan pasar modal. Ia pernah meraih keuntungan sekitar 5.900 persen ketika membeli saham PT United Tractors Tbk (UNTR) di harga Rp250 per lembar dan menjualnya enam tahun kemudian di harga Rp15.000 per lembar. Ia juga memperoleh keuntungan sekitar 900 persen saat membeli saham INKP di harga Rp1.000 per lembar dan menjualnya satu setengah tahun kemudian di harga Rp10.000 per lembar.
Angka-angka tersebut menggambarkan potensi pertumbuhan yang signifikan dalam jangka waktu tertentu. Namun, di balik potensi itu terdapat proses analisis dan keyakinan terhadap fundamental perusahaan yang dipilih. Menurut Lo Kheng Hong, berinvestasi di saham adalah pilihan terbaik karena investasinya nyata dan transparan.
Laporan laba rugi perusahaan terbuka dipublikasikan dan telah diaudit oleh akuntan publik sebelum diumumkan ke masyarakat. Transparansi ini memungkinkan investor menilai kondisi keuangan perusahaan secara objektif. Harga saham pun dapat dipantau kapan saja dan di mana saja, bahkan melalui smartphone. Keterbukaan informasi ini menjadi salah satu keunggulan pasar modal.
Dengan membeli saham perusahaan yang kinerjanya baik, investor tidak perlu memiliki karyawan, kantor, atau mengelola operasional secara langsung. Jika perusahaan berkembang, maka harga saham cenderung ikut bertumbuh. Investor cukup memilih perusahaan yang bagus dengan harga yang wajar. Sementara itu, manajemen dan karyawan perusahaanlah yang bekerja keras menjalankan operasional sehari-hari.
Namun, di tengah peluang tersebut, terdapat sejumlah mitos yang berkembang. Salah satunya adalah anggapan bahwa saham merupakan judi. Anggapan ini tidak benar. Saham adalah bentuk kepemilikan atau penyertaan modal pada suatu perusahaan. Dengan menanamkan modal, investor membantu perusahaan membiayai operasional dan pengembangan usaha.
Perkembangan usaha tersebut dapat membuka lapangan pekerjaan dan turut menggerakkan perekonomian. Jika saham dianggap seperti judi, hal itu lebih disebabkan oleh perilaku manusianya, bukan instrumen sahamnya. Sama seperti pisau yang dapat digunakan untuk memasak, tetapi juga bisa disalahgunakan. Instrumennya netral, yang menentukan adalah cara penggunaannya.
Mitos lain menyebutkan bahwa saham harus dipantau setiap waktu. Dalam praktiknya, hal ini bergantung pada tujuan masing-masing. Jika seseorang menjadi trader yang mencari keuntungan jangka pendek, maka pergerakan harga memang perlu dipantau secara rutin. Namun jika menjadi investor jangka panjang, saham yang sudah dibeli tidak perlu terus-menerus diawasi setiap hari.
Kunci menjadi investor adalah melakukan analisis fundamental. Langkah ini dilakukan dengan mempelajari laporan keuangan perusahaan sebelum membeli saham. Investor perlu memahami kondisi laba, pertumbuhan usaha, serta kesehatan keuangan perusahaan. Tanpa analisis ini, keputusan investasi menjadi spekulatif.
Pengalaman menunjukkan bahwa tidak semua orang langsung tertarik pada saham. Ada yang awalnya hanya mengumpulkan data harga saham untuk keperluan akademis tanpa berniat berinvestasi. Namun data historis memperlihatkan pertumbuhan yang signifikan dalam jangka panjang.
Sebagai contoh, harga saham perbankan pada awal 2009 seperti BCA Rp2.750, BNI Rp730, BRI Rp2.275, dan Mandiri Rp1.790. Pada September 2021, harga saham tersebut menjadi sekitar BCA Rp32.925, BNI Rp5.100, BRI Rp3.820 setelah stock split dua kali dengan rasio 1:5, dan Mandiri Rp5.975 setelah stock split 1:2.
Dalam periode sekitar 12 tahun dari 2009 hingga 2021, terjadi kenaikan yang sangat signifikan. Saham BCA naik dari Rp2.750 menjadi Rp32.925, meningkat sekitar 1.097 persen. Jika pada 2009 membeli 4.000 lembar saham BCA senilai Rp11.000.000, maka pada 2021 nilainya menjadi sekitar Rp131.700.000. Saham BNI naik sekitar 598 persen, BRI meningkat lebih dari 1.500 persen jika memperhitungkan stock split, dan Mandiri naik lebih dari 500 persen dalam periode tersebut.
Selain kenaikan harga, investor juga berpotensi memperoleh dividen setiap tahunnya. Dividen merupakan bagian laba perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. Meski tidak semua perusahaan membagikannya setiap tahun karena sebagian laba dapat digunakan untuk ekspansi usaha, potensi ini tetap menjadi daya tarik tambahan.
Kelebihan saham terletak pada potensi pertumbuhan nilai yang besar jika memilih perusahaan dengan kinerja yang baik. Transparansi laporan keuangan serta kemudahan akses informasi menjadi faktor pendukung dalam proses analisis. Saham juga memberikan kesempatan untuk memperoleh dividen secara berkala.
Namun, saham bukan tanpa kekurangan. Risiko penurunan harga atau capital loss selalu ada. Nilai saham dapat turun akibat berbagai faktor, baik internal maupun eksternal perusahaan. Saham juga dapat mengalami penghentian sementara perdagangan oleh bursa dalam kondisi tertentu.
Jika perusahaan bangkrut, pemegang saham berada pada urutan terakhir dalam pembagian aset setelah kewajiban kepada kreditur diselesaikan. Ini berarti risiko kehilangan dana lebih besar dibandingkan pemegang obligasi. Selain itu, terdapat risiko delisting atau penghapusan saham dari bursa, baik secara sukarela oleh perusahaan maupun secara terpaksa karena pelanggaran aturan atau kebangkrutan.
Cara terbaik berinvestasi saham adalah mencari perusahaan yang kinerjanya bagus tetapi harga sahamnya masih relatif murah. Analisis fundamental perlu dilakukan dengan melihat laporan keuangan beberapa tahun ke belakang karena pertumbuhan perusahaan tidak dapat diukur hanya dalam waktu satu tahun.
Investor juga sebaiknya membandingkan beberapa perusahaan dalam sektor yang sama sebelum mengambil keputusan. Misalnya pada sektor perbankan dengan membandingkan BCA, BNI, Mandiri, BRI, Danamon, dan lainnya. Perbandingan ini membantu melihat mana perusahaan yang memiliki kinerja lebih baik dan valuasi lebih menarik.
Bagi orang Kristen yang mempertimbangkan saham sebagai instrumen investasi, pendekatan rasional dan analitis menjadi penting. Saham bukanlah judi, melainkan bentuk kepemilikan pada perusahaan. Dengan memahami potensi, risiko, serta prinsip analisis fundamental, keputusan investasi dapat dilakukan secara lebih terukur.
Apakah saham mampu membawa kebebasan finansial? Kisah Lo Kheng Hong menunjukkan bahwa hal itu mungkin terjadi. Namun di balik keberhasilan tersebut terdapat disiplin, konsistensi, serta kemampuan membaca laporan keuangan.
Pada akhirnya, saham dapat menjadi pilihan investasi yang menarik bagi siapa pun yang bersedia belajar dan memahami risikonya. Dengan pendekatan jangka panjang, analisis fundamental yang kuat, serta pemilihan perusahaan berkinerja baik, saham menawarkan peluang pertumbuhan yang signifikan di pasar modal.