Dukung Login

Bank Dunia Naikkan Proyeksi Ekonomi Indonesia 2026 Jadi 5,2 Persen

🌐 08 Oct 2026
👁 56 Views | X

Bank Dunia (World Bank) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,2 persen dari sebelumnya 4,7 persen. Revisi sebesar 0,5 poin persentase tersebut menjadi salah satu perkembangan penting bagi perekonomian Indonesia pada awal Oktober 2026. Proyeksi itu tercantum dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi Oktober 2026 yang dirilis Bank Dunia pada 6 Oktober.

Bank Dunia menilai kenaikan proyeksi tersebut terutama dipengaruhi oleh dampak kenaikan harga energi yang diperkirakan lebih ringan terhadap perekonomian Indonesia dibandingkan perkiraan sebelumnya. Selain itu, bauran kebijakan pemerintah juga dinilai masih mampu menopang pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek.




Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia, Franziska Lieselotte Ohnsorge, mengatakan permintaan domestik masih menjadi penopang utama pertumbuhan Indonesia. Kondisi tersebut menjadi salah satu pembeda Indonesia dibandingkan sejumlah negara lain di kawasan Asia Timur dan Pasifik.

Berdasarkan laporan terbaru tersebut, ekonomi Indonesia tumbuh 5,4 persen pada semester I 2026. Pertumbuhan itu lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 yang berada di level 5,1 persen. Bank Dunia menyebut capaian semester pertama tersebut merupakan rata-rata pertumbuhan dua kuartal terkuat sejak 2022.

Penguatan ekonomi pada paruh pertama tahun ini antara lain berkaitan dengan meningkatnya konsumsi swasta dan pengeluaran pemerintah. Bank Dunia mencatat waktu Ramadan dan Idulfitri yang lebih awal, pencairan tunjangan hari raya bagi aparatur sipil negara serta gaji ke-13, dan percepatan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis turut mendorong aktivitas ekonomi pada awal 2026.




Namun, Bank Dunia juga memberikan sejumlah catatan terhadap prospek ekonomi Indonesia. Aktivitas domestik menunjukkan tanda-tanda pelemahan setelah periode pertumbuhan kuat pada paruh pertama tahun. Salah satu indikatornya adalah indeks manajer pembelian atau PMI manufaktur yang turun menjadi 49,3 pada Agustus. Tingkat kepercayaan konsumen juga tercatat berada di angka 116,8 pada Juli.

Selain persoalan aktivitas domestik, pelebaran ketidakseimbangan fiskal dan eksternal juga menjadi perhatian. Bank Dunia memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia akan melebar menjadi 1,5 persen dari produk domestik bruto pada 2026. Lembaga tersebut juga memperkirakan inflasi tetap berada di sekitar batas atas sasaran Bank Indonesia dan pemerintah, yaitu 2,5 persen plus atau minus 1 persen.




Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2 persen tidak hanya untuk 2026, tetapi juga 2027. Proyeksi tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan perkiraan pertumbuhan rata-rata kawasan Asia Timur dan Pasifik yang berada di sekitar 4,5 persen.

Meski demikian, sumber pertumbuhan Indonesia diperkirakan mengalami perubahan. Ketika stimulus fiskal mulai berkurang, pertumbuhan ekonomi dalam jangka menengah diperkirakan semakin bergantung pada investasi swasta. Artinya, keberlanjutan pertumbuhan tidak hanya akan ditentukan oleh belanja pemerintah dan konsumsi masyarakat, tetapi juga kemampuan sektor swasta meningkatkan investasi.


Perkembangan nilai tukar rupiah pada pagi 7 Oktober juga menjadi bagian dari dinamika pasar keuangan. ANTARA melaporkan rupiah pada pembukaan perdagangan Rabu menguat 33 poin atau 0,18 persen menjadi Rp 17.866 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya sebesar Rp 17.899 per dolar AS. Data tersebut menunjukkan bahwa pasar keuangan domestik tetap bergerak di tengah berbagai sentimen ekonomi global dan domestik.




Dengan proyeksi pertumbuhan 5,2 persen, Bank Dunia memberikan gambaran yang relatif positif terhadap ekonomi Indonesia tahun ini. Namun, sejumlah indikator seperti aktivitas manufaktur, kepercayaan konsumen, kondisi fiskal, dan kebutuhan memperkuat investasi swasta tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi pada semester pertama perlu dijaga agar dapat berlanjut ketika dukungan stimulus fiskal mulai berkurang.

Secara keseluruhan, revisi proyeksi Bank Dunia menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki daya tahan ekonomi yang cukup kuat. Permintaan domestik menjadi fondasi utama, sementara investasi swasta diharapkan mengambil peran lebih besar dalam menopang pertumbuhan jangka menengah.






Sumber: Bisniscom, Antaranews, cnbcindonesia